Kukang yang ditemukan oleh warga kadungora dipinggiran sungai diserahkan ke KSDA

GARUTPLUS.CO.ID – Kesadaran warga Garut terkait keharusan menjaga populasi satwa langka yang dilindungi undang-undang kini semakin meningkat. Hal ini ditenggarai kian banyaknya warga yang dengan suka rela menyerahkan satwa langka yang sebelumnya mereka pelihara.

Menurut Kasi Konservasi Sumber Daya Alam (KSDA) Wilayah V Garut, Purwantono, selama 2018 ini pihaknya telah beberapa kali menerima penyerahan satwa langka yang sebelumnya merupakan peliharaan warga. Selain elang, ada juga warga yang menyerahkan satwa langka jenis kukang serta yang lainnya.

Purwantono menilai, banyaknya warga yang menyerahkan satwa langka peliharaannya itu secara sukarela menandakan kian tingginya kesadaran warga Garut terhadap keberadaan Undang-undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya. Dalam Pasal 21 Ayat (2a) undang-undang itu disebutkan “Setiap orang dilarang untuk: a. menangkap, melukai, membunuh, menyimpan, memiliki, memelihara, mengangkut, dan memperniagakan satwa yang dilindungi dalam keadaan hidup.

Kemudian dalam Pasal 40 Ayat 2 undang-undang tersebut juga menyatakan “Barang siapa dengan sengaja melakukan pelanggaran terhadap ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 21 Ayat (1) dan Ayat (2) serta Pasal 33 Ayat (3) dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan denda paling banyak Rp 100.000.000 (seratus juta rupiah).

Penyerahan satwa langka dari warga, tutur Purwantono, diterimanya Rabu (12/12/2018) bertempat di Taman Satwa Cikembulan, Kecamatan Kadungora. Satwa langka yang diserahkan dua orang warga itu berjenis kukang yang keberadaannya memang dilindungi undang-undang karena tergolong langka.

Dikatakannya, pada awalnya warga bernama Nico (22) dan Ipan, (25) berniat menyerahkan satwa langak jenis kukang itu ke pengelola Taman Satwa Cikembulan. Padahal sesuai aturan, penyerahan satwa langka harus dilakukan kepada KSDA.

“Namun karena kebetulan saat itu kami tengah berada di Taman Satwa Cikembulan, akhirnya penyerahan satwa langka itu kami terima. Kami maklum juga mungkin ini akibat kekurangfahaman warga terkait aturan yang berlaku,” ujar Purwantono saat ditemui di Taman Satwa Cikembulan, Jumat (14/12/2018).

Di sisi lain, Purwantono mengaku sangat mengapresiasi kesadaran warga yang dengan sukarela mau menyerahkan kukang meskipun salah alamat. Ia berharap warga lainnya yang masih memelihara satwa langka segera sadar dan menyerahkannya ke KSDA agar satwa tersebut bisa menjalani rehabilitasi kemudian dilepasliarkan di alam bebas sesuai habitatnya.

Untuk kukang yang baru saja diterimanya dari warga, menurut Purwantono nterlebih dahulu akan dilakukan pemeriksaan oleh dokter hewan. Jika hasilnya dinyatakan kukang tersebut dalam kondisi sehat dan sifat liarnya masih ada, maka segera dilepasliarkan di habitatnya.

“Namun jika kukang ini kondisi kesehatannya kurang baik dan sifat liarnya kurang karena lama dipelihara, maka terlebih dahulu akan menjalani rehabilitasi,” katanya.

Nico, warga yang menyerahkan kukang ke KSDA menyebutkan jika satwa itu bukan peliharaan dirinya. Kukang itu ditemukan salah seorang temannya di kawasan pinggiran Sungai Cimanuk di wilayah Kecamatan Banyuresmi, dua hari yang lalu.

Nico yang tahu jika kukang merupakan salah satu satwa yang dilindungi langsung memberitahu temannya tersebut untuk segera menyerahkan kukang itu ke Taman Satwa Cikembulan yang dianggapnya sebagai tempat pemeliharaan satwa-satwa langka. Namun karena takut, temannya itu malah menyuruh Nico dan temannya yang lain, Ipan untuk menyerahkannya ke Taman Satwa Cikembulan.

“Teman saya menemukannya di pinggiran Sungai Cimanuk di wilayah Kecamatan Banyuresmi dua hari yang lalu. Karena tidak tahu jika kukang itu satwa langka yang dilindungi undang-undang, ia membawanya pulang dengan tujuan untuk dipelihara,” ucap warga Kampung Sukasari, Desa Rancasalak, Kecamatan Kadungora ini.

Tak lama setelah diserahkan oleh warga, kukang tersebut langsung mendapatkan pemeriksaan medis oleh dokter hewan yang bertugas di Taman Satwa Cikembulan, drh Dian Tresnowikanti. Menurutnya, kemungkinan besar kukang tersebut memang belum sempat dipelihara karena sifat liarnya masih terlihat.

Dian juga mengingatkan warga yang menemukan kukang agar tidak langsung main tangkap karena selain masuk dalam daftar satwa langka yang dilindungi undang-undang, kukang juga suka menggigit jika dalam kondisi terancam. Gigitan kukang bisa mengandung bisa meski tak membahayakan tapi bisa membuat orang yang digigitnya dilanda demam.

“Sebenarnya mulut dan gigi kukang tidak mengandung bisa. Bisa kukang terdapat pada bagian lengan hingga ketiak sehingga jika merasa terancam satwa yang tergolong pemalu ini akan menjilat bagian lengan hingga ketiaknya sebelum menggigit mahluk yang dianggapnya membahayakan keselamatannya,” kata Dian. (rls)

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here