Garutplus.co.id – Dalam upaya meningkatkan kesejahteraan dan perlindungan guru madrasah diniyah di Kabupaten Garut, Forum Komunikasi Diniyah Takmiliyah (FKDT) Kabupaten Garut menggelar pembinaan guru madrasah diniyah bertema Percepatan BA Emis 4.0 2025 yang dirangkaikan dengan rapat koordinasi pengurus cabang FKDT dan penandatanganan kerja sama dengan BPJS Ketenagakerjaan.
Kepala Kementerian Agama Kabupaten Garut, Saepulloh, menegaskan bahwa FKDT bukanlah “anak tiri” dalam pembinaan umat. Ia mengapresiasi kegiatan pembinaan yang selama ini konsisten dijalankan FKDT karena menjadi bagian penting dari pembinaan keagamaan di masyarakat.
“Kementerian Agama akan hadir setiap saat untuk bapak, ibu, dan masyarakat, terlepas seperti apa heterogennya masyarakat di Garut. Kita harus jaga soliditas, karena ini bagian dari perjuangan untuk kesejahteraan guru madrasah. Insyaallah setiap gerak langkah kita adalah ikhtiar mewujudkan masyarakat yang beriman kepada Allah SWT,” ujarnya.
Saepulloh juga mengajak seluruh pengurus dan guru untuk menjaga kerukunan, baik dalam organisasi, keluarga, maupun kehidupan bermasyarakat. “Kerukunan adalah kunci. Dengan rukun, amanat organisasi bisa kita jalankan secara sempurna,” tambahnya.
Ketua FKDT Garut, Atep Taufiq Mukhtar, menegaskan bahwa guru madrasah diniyah adalah ujung tombak pendidikan agama di masyarakat. Menurutnya, perjuangan mereka dalam mendidik generasi bangsa tidak boleh dihadapkan pada ketidakpastian hidup.
“Selama ini guru madrasah bekerja dengan keikhlasan yang luar biasa, meskipun dengan keterbatasan penghasilan. Kerja sama dengan BPJS Ketenagakerjaan ini adalah langkah strategis untuk memastikan mereka terlindungi, tidak hanya secara moral tetapi juga secara sosial dan ekonomi,” ujarnya.
Atep menambahkan, FKDT akan berperan aktif menjadi jembatan informasi dan fasilitator pendaftaran bagi seluruh guru madrasah diniyah.
“Kami ingin semua guru merasa aman ketika mengajar. Dengan adanya jaminan kecelakaan kerja dan kematian, mereka tidak lagi khawatir jika terjadi musibah. Bahkan, anak-anak mereka bisa mendapatkan beasiswa hingga perguruan tinggi,” jelasnya.
Ia juga mengajak seluruh pengurus FKDT di tingkat kecamatan dan desa untuk bergerak bersama mensosialisasikan manfaat program ini.
“Perjuangan kita bukan hanya soal kurikulum dan kualitas pembelajaran, tapi juga soal kesejahteraan para pejuang pendidikan agama ini. Kalau guru sejahtera, insyaallah mereka akan semakin semangat mencetak generasi berakhlak mulia,” tegasnya.
Petugas BPJS Ketenagakerjaan Garut, Ilham Fathurahman, menjelaskan bahwa kerja sama ini bertujuan menjangkau pekerja informal seperti guru ngaji yang selama ini minim informasi dan partisipasi dalam program jaminan sosial ketenagakerjaan. Target awalnya adalah mendaftarkan 6.000 hingga 7.000 guru ngaji dari total sekitar 12.000 yang ada di Garut.
“Jika terdaftar, guru ngaji akan mendapatkan perlindungan Jaminan Kecelakaan Kerja dan Jaminan Kematian. Manfaatnya besar, mulai dari biaya pengobatan penuh hingga santunan untuk keluarga, termasuk beasiswa pendidikan untuk dua anak hingga Rp174 juta,” jelas Ilham.
Ia mengajak seluruh pekerja, termasuk guru ngaji, untuk memanfaatkan program ini. “Jangan tunggu musibah datang baru kita panik mencari pinjaman. BPJS Ketenagakerjaan hadir untuk memberikan perlindungan sejak awal,” tegasnya.
Dengan adanya kerja sama ini, FKDT Garut dan BPJS Ketenagakerjaan berharap para guru madrasah diniyah di Garut dapat mengajar dengan lebih tenang, terlindungi, dan semakin berdaya dalam menjalankan tugas mulia di tengah masyarakat.
—






