Garutplus.co.id – Sekitar 150 operator dan kepala Madrasah Diniyah Takmiliyah Ula (MDTU) dari tiga kecamatan di wilayah Garut Selatan, yakni Banjarwangi, Singajaya, dan Cihurip, mengikuti kegiatan pembinaan sekaligus rapat kerja (Raker) Dewan Pengurus Anak Cabang Forum Komunikasi Diniyah Takmiliyah (DPAC FKDT), Senin 12 Agustus 2025.
Kegiatan ini membahas sejumlah agenda strategis terkait keberlangsungan pendidikan diniyah, di antaranya percepatan pengisian Berita Acara (BA) EMIS 4.0 semester ganjil 2025, sikap penolakan terhadap kebijakan Full Day School, serta dukungan penuh untuk kegiatan Garut Bersholawat pada September mendatang.
Ketua DPAC FKDT Kecamatan Banjarwangi, Aj. Iwan Ahwal Taufiq, S.Pd., mewakili seluruh peserta, menyampaikan pernyataan sikap menolak penerapan Full Day School karena dinilai dapat mengancam keberadaan pesantren dan MDTU.
“Full Day School akan memangkas waktu belajar santri di pesantren dan madrasah diniyah. Ini bukan hanya soal jam belajar, tapi soal kelestarian pendidikan agama di tengah masyarakat,” tegasnya.
Selain itu, para peserta juga menyatakan komitmen untuk mempercepat penyelesaian data EMIS 4.0 agar seluruh administrasi MDTU tertata rapi dan terintegrasi.
Tidak hanya itu, forum ini memberikan apresiasi sekaligus dukungan penuh untuk pelaksanaan Garut Bersholawat yang akan digelar September 2025. Seluruh guru ngaji yang hadir menyatakan siap mengirimkan sedikitnya 1.000 guru untuk memeriahkan dan menyukseskan acara tersebut.
Ketua DPC FKDT Kabupaten Garut, Atep Taofiq Mukhtar, mengapresiasi kesolidan dan kebersamaan para guru ngaji, khususnya di wilayah Garut Selatan.
“Semangat dan kekompakan ini adalah modal besar kita. FKDT Garut Selatan sudah menunjukkan bahwa meski dihadapkan pada tantangan kebijakan, kita tetap solid membela pendidikan agama dan menjaga tradisi pesantren,” ujar Atep.
Atep juga menegaskan bahwa FKDT akan terus memperjuangkan eksistensi MDTU di tengah arus perubahan kebijakan pendidikan nasional. “Pendidikan diniyah adalah benteng akhlak generasi bangsa. Tanpa ini, kita khawatir anak-anak akan kehilangan pondasi moral yang kuat,” tambahnya.
Dengan adanya raker dan pembinaan ini, FKDT berharap seluruh guru ngaji dan pengelola MDTU dapat semakin meningkatkan profesionalisme, memperkuat jejaring, dan bersama-sama menjaga kelangsungan pendidikan agama di daerah.
—






