Kepala Bidang Pengembangan Masyarakat Pariwisata Kementerian Pariwisata (Kemenpar), Dra Ambar Rukmi M.Pd, saat memberikan sambutan.

GARUTPLUS.CO.ID, GARUT – Parawisata menjadi industri yang menjanjikan, terlebih dengan sumbangan devisa yang sangat besar dari sektor parawaisata menjadi hal yang sangat menjanjikan.

Fasilitas khusus bagi para penyandang disabilitas di tempat pariwisata dinilai masih kurang. Menurut Kepala Bidang Pengembangan Masyarakat Pariwisata Kementerian Pariwisata (Kemenpar), Dra Ambar Rukmi M.Pd, mengatakan fasilitas untuk para difabel sangat lah belum maksimal diapilaksikan oleh pangembang pariwisata.

“Kalau menurut saya (untuk destinasi wisata yang ramah difabel) hampir belum ada, adanya memang baru aksesibilitasnya saja, sementara yang lainya belum maksimal,” kata Ambar saat ditemui di pelatihan pariwisata Goes To Difabel, di Hotel Fave Garut, Senin (25/22/2019).

Memang selama ini kebanyakan di Hotel maupun destinasi wisata hanya difasilitasi untuk fasilitas akaesnya saja. Sementara untuk fasilitas lain masih banyak yang belum dipenuhi oleh para pengembang wisata.

Salah satunya seperti di toilet seharunya ada peganganya untuk kemudahan bagi para kaum difabel. Memang kata Ambar tidak semua destinasi tidak ramah difabel namun kebanyakan belum memenuhi fasilitas bagi para difabel.

Menurutnya, sejak tahun 2000-an, Pemerintah pusat sudah konsen terhadap upaya pemenuhan fasilitas fisik bagi kaum disabilitas, tidak hanya di perkantoran atau sekolah, namun di tempat wisata juga.

Termasuk di Kabupaten Garut, menurutnya fasilitas bagi para penyandang disabilitas di tempat wisata baru sebatas pada aksesibilitas saja, sementara hal lainnya belum tersedia.

“Untuk destinasi di Garut masih kurang, adanya baru aksesibilitas, sementara yang lain seperti kamar mandi wc atau toilet destinasi wisata disabilitas itu belum,” kata Ambarukmi

Dikatakan Ambar pariwisata bukan seperti Museum yang hanya dilihat dan dipelajari saja, para difabel juga tentu sangat ingin menikmati destinasi wisata yang ada di tempat wisata teraebut. “Sebenarnya kita juga ingin membuat juga dan mulai peduli kepada para difabel ini, yakni untuk fasilitas fisiknya saat didestinasi,” katanya.

“Kita ingin membuat juga (publik, red) untuk mulai peduli bagi para disabilitas. Pertama pemenuhan fasilitas fisiknya, kemudian sosial, masyarakat sadar wisata dengan sapta pesona itu, termasuk peduli disabilitas. Karena yang belum itu tuntutan masyarakat, kita melihat ternyata anak berkebutuhan khusus (ABK) ingin sekali menikmati pariwisata. Pariwisata bukan hanya museum saja tapi ingin menikmati destinasi pariwisatanya,” katanya.

Ketika ditanya soal kesadaran masyarakat, tidak jarang warga non ABK justru masih memakai fasilitas yang dikhususkan bagi kaum disabilitas. Hal tersebut dinilai merenggut hak para ABK, karena warga non ABK telah jelas sarananya.

“Pemerintah untuk di daerah destinasi wisata ingin membantu mereka, itu akan ngedukasi mereka dan masyarakat yang mengelola juga harus kita kasih edukasi. Tentang bagaimana cara memperlakukan para kaum disabilitas, etika terhadap para penyandang disabilitas, dan lainnya,” pungkasnya. (rls)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here