GarutPlus.co.id – Anggota DPRD Kabupaten Garut, Yuda Puja Turnawan, menyoroti ketidakakuratan Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN) setelah menemukan seorang lansia tunggal, Abah Asun Santosa, yang tinggal di rumah tidak layak huni namun tercatat dalam desil 6–10. Kondisi tersebut membuatnya tidak memenuhi syarat untuk menerima bantuan sosial.
Abah Asun tinggal di Kampung Astanagirang RT 01 RW 03, Kelurahan Sukajaya, Kecamatan Tarogong Kidul, Kabupaten Garut. Rumahnya yang sudah lapuk dan nyaris ambruk menjadi gambaran nyata bahwa data kesejahteraan masih jauh dari akurat.
“Ini adalah salah satu gambaran belum akuratnya DTSEN menggambarkan potret kesejahteraan rakyat Indonesia. Khusus di Garut, banyak lansia duafa yang masuk ke desil 6–10, sehingga tak memungkinkan mendapatkan bantuan sosial dari pemerintah,” ujar Yuda Puja Turnawan.
Pada Minggu (16/11/2025), Yuda bersama operator SIKS-NG Kelurahan Sukajaya, Arni Febriati, dan Pendamping Linjamsos Kelurahan Sukajaya, Nisa Ardlianti, menengok langsung kondisi Abah Asun di rumahnya. Selain melakukan pengecekan, Yuda memberikan bingkisan sembako dan santunan uang.
“Kunjungan ini juga sebagai ikhtiar kecil untuk memperbaiki DTSEN. Insya Allah di awal Desember 2025 operator SIKS-NG akan mengusulkan perubahan desil Abah Asun,” ujarnya.
Yuda menegaskan perlunya gerakan bersama untuk memperbaiki data DTSEN. Ia menilai masih banyak masyarakat mampu yang justru menerima bantuan pemerintah pusat, sementara warga miskin yang benar-benar membutuhkan justru tak tercatat.
“Perlu ikhtiar bersama agar ada perbaikan DTSEN, karena masih ada orang mampu yang menerima bansos, dan masih banyak warga tidak mampu yang terabaikan karena data yang tidak akurat. Ayo bersama-sama perbaiki DTSEN,” ajaknya.
Berita ini menggambarkan pentingnya validitas data agar penyaluran bantuan sosial tepat sasaran, serta menjadi peringatan bahwa pembaruan data harus menjadi prioritas agar tidak ada lagi warga miskin yang tercecer dari perhatian pemerintah.






