GarutPlus.co.id – Dinas Pengendalian Penduduk Keluarga Berencana Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DPPKBPPPA) Kabupaten Garut menggelar Kampanye Anti Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak di SMAN 11 Garut, Rabu (27/8/2025). Kegiatan ini menjadi bagian dari rangkaian kampanye di sekolah dan ruang publik untuk meningkatkan kesadaran pelajar sekaligus masyarakat luas.
Kepala DPPKBPPPA Kabupaten Garut, Yayan Waryana, menegaskan bahwa kekerasan terhadap perempuan dan anak tidak hanya berupa fisik atau psikis, tetapi juga bisa muncul dari persoalan sosial lain, seperti anak kabur dari rumah hingga perkawinan usia dini.
“Melalui kegiatan ini, kami ingin menyampaikan pesan stop kabur dari rumah dan cegah perkawinan di bawah umur. Kedua hal ini kerap menjadi pemicu masalah serius di kemudian hari, mulai dari disharmonisasi rumah tangga, kekerasan dalam rumah tangga (KDRT), hingga perceraian,” ujar Yayan didampingi oleh Kabid Perlindungan Anak Linlin.

Ia menjelaskan, perkawinan usia anak berpotensi menimbulkan masalah kesehatan maupun sosial. Anak yang lahir dari perkawinan dini lebih berisiko mengalami stunting, sementara ibu muda rentan menghadapi tingginya angka kematian ibu (AKI) dan bayi (AKB) dibandingkan kehamilan pada usia matang.
Di SMAN 11 Garut, kegiatan diisi dengan senam Three Ends dan TOSS, serta pembagian poster, spanduk, dan leaflet berisi pesan pencegahan kekerasan, penyalahgunaan NAPZA, bahaya perkawinan dini, serta ajakan agar remaja tidak meninggalkan rumah tanpa arah yang jelas.
Selain penyuluhan bagi siswa, kampanye ini juga bertujuan memperkuat peran guru dan tenaga pendidik dalam mendukung pemenuhan hak-hak anak serta memberikan perlindungan khusus bagi anak-anak yang rentan.
“Para pelajar harus menjadi agen perubahan. Mereka bisa menyuarakan penolakan kekerasan sekaligus membantu menekan angka perkawinan anak yang masih terjadi di masyarakat,” tambah Yayan.
Rangkaian kampanye anti kekerasan ini berlangsung sejak 29 Juli hingga 4 September 2025, menyasar 10 SMA/SMK/MA di Kabupaten Garut serta ruang publik seperti Jalan Ibrahim Adjie saat Car Free Day dan Lapang Kerkof Garut. Program ini juga mendukung Gerakan Nasional Three Ends — mengakhiri kekerasan terhadap perempuan dan anak, mengakhiri perdagangan manusia, serta mengakhiri kesenjangan akses ekonomi bagi perempuan.
Kegiatan ini juga mendukung program Inovasi Pelita Aksi “pelopor perlindungan anak dan konselor sebaya inspirasi” yang sedang dilakukan dalam Diklatpim (Pendidikan dan Pelatihan Kepemimpinan) yang dilakukan oleh Kabid Perlindungan Anak Linlin.***






